Phyllum Echinodermata oleh:  M The Second Putra (NIM 141411133066)

ECHINODERMATA
Menurut Suwigyo (2005 dalam Subekti, dkk., 2016) Echinodermata berasal dari kata echino dan derma. Echinos memiliki arti duri, sedangkan derma memiliki arti kulit, sehinggadapat dikatakan bahwa Echinodermata memiliki ciri khas kulit yang berduri.karakter lain tubuhnya adalah  tubuhnya bersifat simetri radial pentamer yaitu tubuh terbagi menjadi lima bagian mengelilingi sumbu tubuh. Sesuai dengan pendapat Raghunathan dan Venkataraman (2012) Echinodermata merupakan hewan invertebrata yang memiliki duri pada permukaan kulitnya. Filum Echinodermata terdiri atas 5 kelas, yaitu Asteroidea (bintang laut), Ophiuroidea (bintang mengular), Echinoidea (bulu babi), Holothuroidea (timun laut), dan Crinoidea (lili laut). Masing-masing dari kelas tersebut memiliki peranan tersendiri terhadap ekologi laut. Asteroidea (bintang laut) dan Ophiuroidea (bintang mengular) memiliki peranan sebagai pelindung karang dari pertumbuhan alga yang berlebihan. Holothuroidea dan Echinoidea memiliki peranan sebagai pendaur ulang nutrien. Echinodermata disebut sebagai kunci ekologi yang berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Subekti, dkk (2016) berpendapat bahwa Echinodermata memiliki beberapa karakteristik. Echinodermata dewasa memiliki tubuh simetri radial pentamer, tidak memiliki otak, dan tubuhnya tidak bersegmen. Tubuh Echinodermata tertutup oleh epidermis tipis dengan penguat berupa kepingan kapur yang dikenal dengan ossicle dan laminae. Echinodermata memiliki saluran pencernaan yang lengkap namun pada beberapa jenis hewan ini tidak dilengkapi dengan anus. Memiliki rongga tubuh yang sebenarnya atau coelomata yang dilapisi peritoneum bercilia. Echinodermata memiliki sistem pembuluh air yang berfungsi untuk menggerakan kaki tabung atau dikenal dengan tube feet. Echinodermata memiliki alat pernafasan utama berupa insang kulit seperti skin gill, papulae, dan dermal branchia. Echinodermata dilengkapi dengan kelenjar pencernaan beserta saluran pencernaan, gonad, ampula, dan sistem peredaran darah yang kompleks. Echinodermata memiliki sistem syaraf yang menyebar subepidermal. Subepidermal memiliki makna bahwa sistem syaraf erat kaitannya dengan kulit epidermis. Berbeda dengan pendapat Ranghunathan dan Venkataraman (2012), Subekti, dkk (2016) berpendapat bahwa Phylum Echinodermata dibagi menjadi empat classis yaitu Stelleroidea yang dibagi menjadi dua sub kelas (Asteroidea dan Ophiuroidea), Echinoidea, Holothuroidea, dan Crinoidea.
Asteroidea memiliki nama lain yaitu bintang laut. Bintang laut sering dijumpai pada terumbu karang. Umumnya bintang laut memili warna yang menarik. Hewan ini disebut dengan bintang laut karena bentuk tubuhnya seperti bintang pentamerous dengan lima lengan. Bagian bawah tubuh bintang laut yang dilengkapi mulut pada central disk disebut dengan bagian oral, sedangkan bagian atas tubuh bintang laut yang dilengkapi anus disebut dengan bagian aboral. Bintang laut bereproduksi dengan cara aseksual (fission) dan secara dioecious menggunakan gonad sebanyak lima pasang pada tiap lengannya. Menurut Fitria (2010) bintang laut merupakan hewan yang memiliki rongga tubuh sebenarnya dan memiliki sistem pencernaan yang lengkap. Makanan bintang laut berupa bahan organik dan plankton yang masuk melalui mulut menuju esofagus dan lambung yang bercabang pada setiap lengan. Sisa hasil pencernaan akan dikeluarkan melalui anus. Anus terletak di bagian aboral (bagian dorsal) tubuh. Bintang laut merupakan hewan yang mempunyai daya regenerasi tinggi. Ketika satu lengan terpotong maka bagian yang hilang akan segera terbentuk kembali. Bintang laut biasanya hidup dengan membentuk keloni kecil yang terdapat  beberapa individu.
Ophiuroidea lebih dikenal sebagai bintang ular. Tubuh bintang ular berbentuk hampir sama dengan bintang laut namun bentuk lengan berbeda. Lengan bintang ular berbentuk langsing dan panjang, lengan beruas-ruas, dan dapat dibengkokkan. Lengan bintang ular dapat digunakan untuk merayap. Bintang ular sulit ditemukan karena bersifat noccturnal dan hidup di bawah batu dan celah karang. Bintang ular merupakan suspension feeder, filter feeder, deposit feeder, dan scavenger. Makanan bintang ular mislanya detritus, crustacea kecil, serta hewan kecil lainnya. Umumnya bintang ular bereproduksi dengan cara dioecious dan pembuahan terjadi secara eksternal yang menghasilkan larva ophiopluteus. Ophiopluteus berbentuk simetri bilateral yang berenang bebas.
Kelas Echinodermata selanjutnya adalah kelas Echinoidea. Kelas ini mencakup bulu babi dan sand dollar. Bulu babi dikenal hidup di substrat batu dan daerah berlumpur atau hamparan ganggang laut yang berada di daerah litoral maupun hingga kedalaman 5.000 m. Hewan pada kelas ini bergerak atau merayap dengan menggunakan kaki tabung dan duri-duri. Karakteristik bulu babi adalah tidak memiliki lengan, berbentuk bulat, hewan ini memiliki cangkang keras yang berkapur dan berduri. Kaki tabung pada hewan ini digunakan untuk merayap di dasar perairan. Beberapa jenis bulu babi yang dapat dengan mudah ditemukan di perairan Indonesia antara lain Deadema setosum, Heterocentrotus mammillatus, Echinometra mathei, dan Salmacis bicolar.
Bentuk tubuh kelas Echinoidea adalah bulat, tidak memili lengan, memiliki duri-duri yang panjang yang dapat digerakkan. Permukaan tempurung hewan ini terdapat tonjolan pendek berbentuk bulat sebagai tempat menempelnya duri. Terdapat pedicellaria di antara duri-duri tersebut. Umumnya bulu babi mnemiliki dua jenis duri yaitu duri panjang atau disebut juga dengan duri utama dan duri pendek atau disebut dengan duri sekunder. Mulut bulu babi terletak pada bagian oral yang dilengkapi dengan gigi tajam dan kuat untuk mengunyah. Saluran pencernaan pada bulu babi terdiri atas mulut, esofagus, perut, usus, rektum, dan anus. Anus dan madreporit bulu babi terletak pada bagian aboral. Bulu babi bereproduksi dengan cara seksual, dioecious, dan pembuahan secara eksternal. Telur akan menetas menjadi larva echinopluteus yang berbentuk simetri bilateral.
Kelas Holothuroidea merupakan salah satu dari kelas Echinodermata. Kelas ini dikenal sebagai timun laut atau teripang.  Teripang sering dijumpai pada perairan dangkal hingga laut dalam. Tubuh kelas ini berbentuk panjang, silindris, brersifat lunak, dan berbentuk simetri bilateral secara sekunder. Timun laut memiliki mulut dan anus yang berada di ujung tubuh yang berbeda. Mulut hewan pada kelas ini dikelilingi tentakel yang terkadang tentakel ini bercabang. Holothuria umumnya aktif pada saat malam hari untuk mencari makan yang berupa bahan organik. Sistem pencernaan Holothuria terdiri atas mulut, pharynx, esofagus yang tidak ada pada beberapa jenis, lambung, usus, cloaca, dan anus. Permukaan tubuh kelas ini tidak keras dan tidak berduru seperti kelas Echinoidea. Kelas ini memiliki daya regenerasi yang besar. Umumnya Holothuria bereproduksi dengan hemprodit, protandri, dan dioecious.
Crinoidea merupakan salah satu kelas dari Echinodermata yang berbentuk seperti bunga lili. Bintang bulu merupakan jenis hewan pada kelas ini yang tidak memiliki tangkai, karena lengannya yang mirip dengan bulu unggas. Tubuh hewan pada kelas ini terdiri atas mangkuk kecil yang tersusun dari plat-plat kapur dan dilengkapi dengan lima lengan yang panjang. Mulut hewan pada kelas crinoidea berada di tengah bagian oral dan dikelilingi lengan-lengan. Makanan hewan ini adalah plankton dan detritus. Anus hewan ini terletak pda bagian oral. Hewan pada kelas ini memiliki pembuluh air sederhana dan tidak memiliki madreporit maupun ampula. Crinoidea juga memiliki daya regenerasi yang besar. Sistem reproduksi hewan pada kelas ini terjadi secara aseksual dan juga dioecious.

DAFTAR PUSTAKA
Fitriana, Narti. 2010. Inventariasi Bintang Laut (Echinodermata: Asteroidea) di Pantai Pulau Pari, Kabupaten Adm. Kepulauan Seribu. Fakultas Teknik, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indraprasta PGRI
Raghunathan C, Venkataraman K. 2012. Diversity of Echinoderms in Rani Jhansi. Marine National Park, Andaman and Nicobar Islands. International Day for Biodiversity, 22 May 2012.
Subekti, S., Kismiyati, Rosmanida, S. Andriyono, K. T. Pursetyo. 2016. Buku Ajar Avertebrata Air. Edisi Revisi 3. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Surabaya.

Comments